Pemuda KTK Pujut gelar Diskusi Publik bersama elemen & tokoh Kawasan Super prioritas Nasional -->

Sosial Media

Pemuda KTK Pujut gelar Diskusi Publik bersama elemen & tokoh Kawasan Super prioritas Nasional

3/23/2021, Tuesday, March 23, 2021
Foto: Kegiatan Diskusi Publik yang diinisiasi Karang Taruna Kecamatan Pujut di Ballroom Hotel Grand Royal Batu Jai, Kabupaten Lombok Tengah, Senin/22/3


Lombok Tengah
-Karang Taruna Kecamatan (KTK) Pujut gelar Kegiatan Diskusi Publik tentang Mandalika dulu, nanti dan kini di Ballroom Hotel Grand Royal Batujai, Kabupaten Lombok Tengah, Senin, 22/3.


Ketua KTK Pujut, Sri Anom Putra Sanjaya mengatakan, Mandalika merupakan tempat liburan. Bedanya, sekarang dengan dulu adalah pada keterlibatan pemerintah dan swasta. Sebab ada potensi ekonomi disitu (KEK Mandalika, Red). 


"Jika tokoh masyarakat bersama tokoh adat banyak membuat tradisi liburan ke pantai, tradisi tersebut yang hari dikenal dengan Madak Mare. Esensinya sama, menikmati laut, pantai, melepas penat setelah selama setahun menggarap sawah dan ladang. Dari tradisi itu, diketahui jika keindahan kawasan pesisirnya ternyata memiliki potensi yang lain selain untuk mendapatkan hiburan dan melepas lelah yakni potensi ekonomi" Ujarnya


“mari kita terlibat maksimal agar hari esok yang akan kita jalani menjadi lebih baik, seperti yang kita harapkan. Kolaborasi adalah kunci agar kita bisa memastikan hadirnya Mandalika menjadi milik kita semua,” ajak anom


Dari potensi ekonomi ini jelasnya, akhirnya membuat pemerintah dan investor melihatnya sebagai peluang. Lalu dilakukan pembangunan kawasan agar potensi pesisir bisa dioptimalkan.


Akan tetapi, ia mengingatkan jangan sampai pemerintah lupa bahwa dalam semua pembangunan selalu ada dua sisi atau dampaknya, positif maupun negatifnya. Yang paling terkena dampaknya ialah pemuda sekitar The Mandalika. Atas hal tersebut pula, pihaknya menginisiasi terselenggaranya diskusi publik tersebut dengan harapan pemuda di Pujut bisa terlibat memikirkan, dan mengantisipasi dampak negatif yang mungkin saja akan dialami pemuda ke depan.


“salah satu tujuan kita menyelenggarakan diskusi publik jilid II ini ialah untuk menyatukan dan meluruskan informasi-informasi dimedia sosial maupun di tengah-tengah masyarakat yang tidak searah dan malah berpotensi menimbulkan konflik perihal KEK Mandalika ini,” ungkapnya.


Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Loteng, Samsudin juga menyampaikan, bahwa The Mandalika kini sudah menjadi pusat atau pioner Pariwisata daerah. Dan tidak dipungkiri akan banyak membuka peluang kerja ke depannya. Namun apa yang dikhawatirkan oleh pemuda selama ini untuk menjadi termarjinalkan di sana, itu akan menjadi perhatian bersama dan ia memastikan pemerintah tidak akan membiarkan hal demikian terjadi. Baik pemerintah kabupaten, provinsi hingga pemerintah pusat.


Dijelaskan Samsudin juga bahwa untuk mempersiapkan itu semua pihaknya di Dispora juga tahun ini menggelontorkan dana sebanyak Rp. 200 juta untuk pembinaan melalui KTI Kabupaten. Artinya, selama pihaknya mampu akan terus membantu kegiatan dan eksistensi pemuda, demikian halnya pemuda yang ada di Pujut Hanya saja, ketika seperti saat ini kondisi keuangan daerah yang minim, pihaknya tidak bisa memaksakan diri untuk berbuat lebih besar dan ia berharap adik-adik pemuda bisa memahami kondisi tersebut.


“Semoga dengan kita memperbanyak diskusi-diskusi membedah peranan pemuda atas kemajuan daerah seperti ini, bisa membuka wawasan kita terutama pemuda untuk ikut ambil bagian dalam perubahan itu,” ungkapnya.


Sekretaris Dispora Loteng, H Lendek Jayadi juga menyampaikan, bahwa sebagai dinas yang membidangi pariwisata, ada banyak program yang pihaknya hadirkan untuk mendukung The Mandalika sebagai Kawasan Skala Prioritas (KSP) nasional untuk pengembangan pariwisata. Salah satunya melalui platform digital rumah kolaborasi Go Mandalika yang perspektifnya untuk wadah promosi. Ia pun memastikan jika sarana promosi tersebut akan dikembangkan sesuai kaidah dunia pariwisata dan ekonomi kreatif. Sesuai yang tertuang dalam 100 hari kerja bupati dan wakil bupati dimana pengembangan pariwisata daerah juga berbasis E-Tourism.


“Kita sudah memiliki banyak spot desa wisata yang tak kalah potensial dan berkembangnya dengan desa wisata ternama di NTB dan Indonesia pada umumnya. Itu secara perlahan terus kita perkuat dan dukung,” terangnya.


“The Mandalika kita akui memang sebagai kiblat pariwisata di NTB, namun untuk sekarang ini pemerintah juga harus memikirkan terkait keberlangsungan nasip akomodasi perhotelan dan properti yang ada di lingkar KEK. Yang pada umumnya bernasip tak baik dengan adanya pandemi,” sambung Samsul Bahri, Ketua MHA ini.


Dikatakan Samsul, sekarang ini ada 50 hotel dan properti yang tergabung dalam MHA. Dari semua itu, pihaknya sudah siap menyambut kemajuan The Mandalika walaupun di tengah pandemi. Terutama kesiapan untuk menyambut event balapan MotoGP yang konon informasinya bakal dihadiri oleh banyak penonton dengan kisaran 150 hingga 200 ribu penonton sekali event. Sebab, dari 50 hotel dan properti yang ada, sudah mulai melakukan pembenahan. Hanya saja, diakuinya sejauh ini pihaknya melihat pemerintah daerah masih belum siap menampung semua pengunjung jika melihat jumlah hotel, properti dan homestay yang ada di Loteng. Terlebih, jika waktu tinggal para pengunjung bisa diperpanjang dengan berbagai event penyambung setelah MotoGP nantinya. Apalagi jika melihat gelaran MotoGP ini tinggal menghitung bulan saja.


“Semoga ada solusi untuk masalah ini, sekali lagi kami di MHA siap untuk menyambut MotoGP baik dari segi fasilitas maupun karyawan,” akunya.


Sementara itu, I Made Pari Wijaya

Operations Head The Mandalika mengaku, dengan begitu besarnya potensial pengembangan The Mandalika jika dibandingkan dengan Nusa Dua Bali yang hanya seluas 300 hektare dan dengan 13 ribu pekerja, masyarakat Loteng harus berperan besar dalam sumber daya alam ini. Artinya, The Mandalika harus mendatangkan multiplayer effect di tengah masyarakat. Hal tersebutlah yang terus dihadirkan oleh pihaknya di ITDC di tengah geliat pembangunan berbagai fasilitas di sekitarnya. Terutama multiplayer effect di dunia kerja. Hingga kini, pihaknya tetap komit untuk merekrut tenaga lokal sebagai pekerja. Baik pekerja di tahapan pra beroperasi maupun pasca beroperasi nantinya. Namun demikian, untuk pengembangan kawasan di luar kawasan inti ia berharap peran serta pemerintah daerah untuk melakukan pemberdayaan kepada desa-desanya. Seperti pengembangan desa wisata sebagai ikon pendukung keberadaan The Mandalika.


“Kami siap, Mandalika sebagai magnet utama harus menjadi daya tarik baru bagi lingkungan sekitarnya maupun dunia pariwisata. Karena dari 5 destinasi KSP, The Mandalika menjadi KSP super prioritas di Indonesia. Dan ini sekali lagi kami siap untuk memberikan multiplayer effect bagi masyarakat sekitar dan daerah. Untuk itu, saya berharap saran, masukan dan kritikan yang sifatnya konstruktif dari rekan-rekan penggiat pariwisata untuk perbaikan kami,” harapanya


turut hadir dalam kegiatan trrsebut yakni Mandalika Hotel Associastion (MHA), badan Promosi Patiwisata Daerah (BPPD NTB) Indonesian Tourism Development Coorporation (ITDC), Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Dispora) Lombok Tengah (Loteng) dan berbagai kalangan dan pemerhati pariwisata Loteng lainnya.

TerPopuler