Breaking News

6/recent/ticker-posts

PW Muhammadiyah NTB Siap Bertukar Pikiran dengan HARUM

Foto; Pasangan Harum saat bersilaturrahmi ke PW Muhammadiyah NTB

Mataram- Silaturahim Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana bersama anggota DPRD Kota Mataram TGH Mujiburrahman dengan berbagai elemen terus berjalan. Keduanya yang tergabung dalam paket HARUM akan berkontestasi pada Pilkada Kota Mataram 2020. Kali ini, HARUM datang ke Kantor Pengurus Wilayah Muhammadiyah di Lingkar Selatan, Kota Mataram (21/8).

Hadir Ketua Pengurus Wilayah Muhammadiyah Doktor H Falahuddin bersama jajaran pengurus Doktir Isfanari, Doktor Subhan, H Muhammad, Doktor Ali, dan beberapa pengurus lainnya.

Doktor Falah menyampaikan, memang selama ini Organisasi Muhammadiyah tidak terlibat dalam politik praktis. Meski begitu, politik menjadi media paling efektif berdakwah. Muhammadiyah berkepentingan mengurusi politik.

"Ketika ada politik ya dakwah. Bicara dakwah ya politik," katanya.

"Selanjutnya kita berikan kepada Pak Mohan dan TGH Mujib untuk menyampaikan. Pada berikutnya nanti berdialog," sambungnya.

Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana menyampaikan, kedatangan ke Kantor Pengurus Wilayah Muhammadiyah sebagai informasi HARUM ikut pilkada Kota Mataram 2020. Ikhtiar ini perlu disampaikan ke seluruh elemen masyarakat.

"Meski sudah tahu, penting untuk kami sampaikan kembali. Ini menjadi wadah bertukar pikiran dan pandangan terkait rencana ke depan demi kemaslahatan umat," katanya.

Dijelaskan, langkahnya bersama TGH Mujib menjadi pilihan pengabdian. HARUM memilih untuk dipilih menjadi pemimpin. Sarana memberi kemanfaatan bagi masyarakat.

"Tekad ini harus diperjuangan. Tidak semata tekad tanpa investasi sosial dan pengalaman," urainya.

Ke depan, lanjutnya, HARUM ingin membangun semangat pembangunan terintegrasi dengan nilai spiritualitas. Organisasi Muhammadiyah selama ini memiliki konsentrasi yang sama.

"Ini (nilai spritualitas) menjadi bagian untuk bisa menjadi sasaran ketika memimpin," tandasnya.

Diakui Mohan, Kota Mataram begitu kompleks. Memiliki beragam problem dengan beragam kebutuhan masyarakat. Kondisi ini menjadi perhatian serius dari HARUM.

"Kesejahteraan dari masyarakat menjadi tujuan. Tolong kami diberikan masukan dan referensi untuk bisa membenahi diri," imbuhnya.

Sementara itu, TGH Mujiburrahman mengatakan, tokoh Muhammadiyah Buya Hamka menjadi mentornya. Meski saat itu hubungan politik sedikit mengeras. Pada akhirnya Buya Hamka memimpin salat jenazah untuk Bung Karno. Termasuk mengiringi pemakaman lawan-lawan politiknya.

"Ini menjadi kekuatan menjalani lika-liku dalam politik di Kota Mataram. Semua dihadapi dengan prinsip Islam. Di DPRD itu kompetitor semua. Namun bisa duduk bersama, indah jadinya," katanya.

Di dalam ikhtiar HARUM, ada cita-cita besar. Sebagai sama-sama pimpinan pondok pesantren pasangan ini berpegang kepada konsensus ulama, kebijakan pemimpin pada rakyatnya harus penuh kemaslahatan.

"Dengan pemahaman agama yang sudah menancap. Saya berdakwah dari usia 20 tahun hingga 51 tahun. Pesan-pesan agama yang terus diulang dipelajari dan disampaikan kepada masyarakat," imbuhnya.

Ditambahkan, ia berpegang pada hadist nabi, siapa pemimpin dipilih rakyat sampai meninggal tak bisa memenuhi keinginan rakyatnya haram masuk surga.

"Ini membuat gentar. Yang membuat cemoh, ada hadist lainnya, pemimpin baik satu jam saja sama dengan ibadah 60 tahun ibadah. Apalagi adil dalam satu periode," imbuhnya.

Lebih lanjut, pemimpin idealnya memahami ilmu agama sebelum diangkat. Pesan nabi, pemimpin memahami ilmu agama. Sebagai santri, ketika menjadi pemimpin, ia bisa membuat para penuntut ilmu termotivasi.

"Mereka memang pantas disiapkan sebagai penerus untuk pemimpin karena sudah memahami agama. Memberi kemanfaatan itu bisa dengan ilmu, maal (harta), badan, dan jabatan," urainya.

"Ketika ditakdirkan kepada kami menjadi pemimpin, kami akan memberi kemanfaatan yang besar kepada masyarakat," imbuhnya.

Pada kesempatan tanya jawab dengan pengurus PW Muhammadiyah, beragam hadir. Diantaranya, menjaga keseimbangan lingkungan di Kota Mataram. Manusia-manusia di Kota Mataram harus bisa ditata. Selain itu, soal ruang terbuka hijau (RTH) 30 persen harus dipenuhi. Meningkatkan pajak dari berbagai macam unsur dilakukan, namun tidak boleh ditekan oleh perusahaan. Mereka punya potensi akan datang ke Kota Mataram. Selain itu, soal transportasi harus jadi perhatian. Angka pembelian kendaraan melebihi jalan yang ada di kota.*

Post a Comment

0 Comments