Breaking News

6/recent/ticker-posts

Tauladan semangat kebangsaan Maulanasyaikh tak lapuk usia



Mataram krikkrik.net-Sejumlah gelar kehormatan yang disematkan kepada Maulanasyaikh TGKH M Zainuddin Abdul Madjid merupakan bukti bahwa beliau adalah sosok manusia luar biasa, salah satu yang populer adalah Tuan Guru Pancor, namun sematan Gelar Tuan Guru Pancor hanyalah satu dari sekian banyak Gelar-gelar Kehormatan lainnya yang diberikan oleh Masyarakat Lombok, Hingga Ulama-Ulama dunia yang juga merupakan guru-guru beliau sewaktu mengenyam pendidikan di Madrasah Assaulatiyah Makkah Al-Mukarramah.

"Salah satu guru beliau yakni Maulanasyaikh Asayyid Hasan Muhammad Almasysyat yang merupakan Ulama tersyohor di Saudi Arabia, bahkan saking Masyhurnya beliau dipaksa untuk menjadi hakim tertinggi oleh Kerajaan Saudi pada waktu itu, dengan sangsi apabila tidak memenuhi keinginan para penguasa waktu itu, beliau akan diusir dari Tanah Arab, Maulanasyaikh Sayyid Hasan Muhammad Alamsysyat juga merupakan sosok Guru yang sangat mencintai seorang murid yang bernama Zainuddin Abdul Madjid, kecintaannyapun dibuktikan dengan 2 Kutipan luar biasa dari Beliau yang sangat terkenal di Kalangan Jamaah Nahdlatul Wathan bahkan orang Lombok pada umumnya, beliau mengatakan bahwa
" Syaikh Zainuddin Ayatun min Ayatillah (salah satu Tanda-tanda Kebesaran Allah)
"Saya tidak Akan berdo'a jikalau belum saya membayangkan Syaikh Zainuddin Ada didepan Saya" dua kutipan ini merupakan pembuktian dari kebenaran sematan Gelar yang beliau sandang". Ungkap TGH. Lalu Gede M. Aliwirasakti, salah Seorang Cucu TGKH. M. Zainuddin Abdul Madjid yang kini menjabat sebagai Rais Awwal (Ketua I)Dewan Mustasyar PBNW. Di kediamannya

Gelar untuk kiprah Perjuangan Agama, Nusa dan Bangsa

2 tahun lalu menjadi sejarah yang patut selalu untuk disyukuri masyarakat Lombok, seorang Tokoh juang Bangsa yang lahir di kampung Bermi, Lombok timur 121 tahun lalu, kini disematkan Gelar pahlawan Nasional pada era kepemimpinan Presiden Jokowi-JK.

Gelar kepahlawanan tersebut menurut Gede Sakti, jauh sebelum hari ini, kakeknya telah mendapatkan Gelar tersebut dihati Masyarakat Lombok, itu terbukti dengan disematkannya juga beliau dengan sebutan Abul Madaris Wal Masajid (Bapak Madrasah dan Masjid), Sematan Gelar tersebut bukanlah semata karena ketenarannya, Namun ada hal yang lebih fundmental dari itu yakni Kiprah dan perjuangan beliau dalam menanamkan Fondasi-Fondasi keislaman dan kebangsaan di Bumi Lombok ini sehingga lahirlah Nama, "Nahdlatul Wathan" jikalau di terjemahkan kedalam bahasa Indonesia akan menjadi "kebangkitan tanah air".

Fondasi dasar keislaman dan perbaikan moral dituangakan Maulanasyaikh dengan mendirikan sejumlah wadah membangun akhlak, diantaranya Ma'had Darul Qur'an Wal Hadits Nahdlatul Watahan ( Setingkat perguruan tinggi, dengan fokus belajar tentang Agama), Universitas Hamzanwadi, menjadi Rektor Universitas Hamzanwadi,STKIP Hamzanwadi, Sekolah Tinggi Ilmu Syari'ah Hamzanwadi, Yayasan Pendidikan Hamzanwadi, Universitas Nahdlatul Wathan Mataram, dan masih banyak lembaga lainnya.

"Beliau memilih jalan menjadi seorang pendidik Masyarakat, dari yang kecil, muda hingga tua, beliau tentu sangat memahami Dinamika peradaban tidak cukup dengan mengandalkan kekuatan fisik semata, namun harus jua dibarengi dengan pembangunan akhlak dan keilmuan, atas dasar kekuatan semangat dalam membangun Bangsa yang diperjuangkan melalui pembangunan SDM itulah, sehingga lahir Nama Oraganisasi "Nahdlatul Wathan" sebagai warisan wadah mencari amal, menegakkan kalimat-kalimat Allah dan memperluas perkembangan Islam untuk generasi setelah beliau. Ungkap TGH lalu Gde Sakti

Nilai-Nilai dan Kecintaan beliau pada bangsa dan tanah air dibuktikan dengan sejumlah pidato kebangsaan beliau diantaranya

“Usia saya sudah senja, matahari tetap terbit dari timur, dunia tetap berputar,
saya tidak rela kemerdekaan yang kita tebus dengan lautan darah itu,kita sia
siakan, tetapi kita harus bangun, sekali lagi kita harus bangun, menurut
kemampuan dan profesi kita masing-masing, sehingga meratalah kemakmuran
dan keadilan di seluruh persada tanah air tercinta ini.” beliau bacakan disaat acara tatap muka para ulama’ dan warga pondok pesantren darunnahdlatain NW Pancor saat kunjugan ketua umum DPP Golkar H Sudarmono, SH
tanggal 26 April 1986)

“Saya tetap setia, taat dan patuh kepada semua ketentuan–ketentuan hukum
yang yang berlaku dalam Negara Republik Indonesia yang berdasarkan
Pancasila dan UUD 1945.”

“Usia saya telah senja, akan tetapi, saya ingin menjadi seperti matahari yang
senantiasa berputar dari Timur ke Barat, bukan saja dalam waktu 24 jam telah
berjuta-juta tahun, kurun dan zaman tidak terlambat biar satu menitpun.”
Pidato Maulanasyaikh didepan jutaan jamaah saat perayaan HULTAH NWDI Ke 52 Tahun 1988 di pancor dikutip dari koran JAYAKARTA Jumat 5 Agustus 1988

Tidak hanya dalam pidato, sejumlah tulisan yang menggambarkan kecintaan beliau kepada bangsa ini juga dimuat pada buka Wasiat Renungan Masa karangan beliau sendir

(Wasiat Renungan Masa Bait Ke-44)
Negara kita Pancasila
Berkutahanan Yang Mahas Esa
Ummat Islam paling setia
Tegakkan Sila yang paling utama

(Wasiat Renungan Masa Bait Ke-68)
Hidupkan iman hidupkan taqwa
Agar hiduplah semua jiwa
Cinta teguh pada agama
Cinta kokoh pada negara

Pada 21 Oktober 1997, dalam usia 99 tahun, Maulanasyaikh wafat dengan meninggalkan Warisan perjuangan beliau sebanyak 1.060 lembaga pendidikan Nahdlatul Wathan yang tersebar di 18 provinsi.

Petikan tauladan untuk kita sebagai generasi setelah beliau bahwasanya semangat dalam berjuang tidak lapuk dimakan usia, siang dan malam beliau selalu mempunyai waktu dalam membimbing ummat dan masyarakat bahkan disaat usia beliau telah memasuki Fase senja, kaki beliau sudah tidak mampu menopang anggota tubuh beliau, suara beliau sudah tidak selantang usia muda, hingga harus ditandu, beliau tetap menyempatkan dirinya sekedar untuk memberikan nasihat, semua itu demi kecintaan dan keinginan beliau kepada kita semua untuk masuk syurga bighairi hisab seperti yang selalu beliau ucapkan.

Belajarlah Sejarah supaya kita tidak tersesat dalam memutuskan, jika kita ingat jasa beliau Tidaklah pantas bagi kita selaku masyarakat Sasak, menolak mengagungkan nama beliau, sebab keberadaan beliau merupakan simbol dari Islam itu sendiri, semakin banyak orang mengenal beliau akan semakin banyak pula orang kagum kepada Lombok dan Islam, karena beliau merupakan kekasih Allah, Pewaris para Nabi, Al ulama'uwarasatul Ambiya.

Post a Comment

0 Comments