Penguatan Kapasitas Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mewujudkan Pendidikan Holistik; Competitive Advantage & Islam Rahmatan Lil Alamin


Oleh Dr.Lalu Sirajul Hadi, M.Pd
Kepala MAN 3 Kota Mataram

Gelombang tinggi ilmu pengetahuan, informasi dan tekhnologi semakin nyata tak terbendung. Fenomena ini membuat pola, relasi dan kontak antar manusia sangat dekat, bahkan dekat sekali, yang kemudian digambarkan sebagai hubungan tanpa jarak. Tekhnologi informasi, telah mengatur kehidupan dengan sedemikian mudah, pada hampir semua kebutuhan, hubungan dan koneksi. Tidak saja pada hubungan ekonomi dan bisnis, tetapi juga hubungan antar budaya (culture) dan pradaban (civilization),  bahkan hubungan antar emosi dan psikologi, terutama saat menyatunya hubungan dan rasa, dalam proses komunikasi (chatting-daring), antar manusia.

Integrasi sosial antara sesama semakin suram dan kabur, karena setiap orang asyik dengan jari jemari, perasaan dan emosinya sendiri. Masa depan hubungan sosial, baik antar sesama manusia dalam dunianya yang nyata, menjadi retak dan nyaris terancam punah. Gejala demoralisasi, dis-trust, deviasi sosial, hilanganya budaya malu, pergaulan bebas, narkotika, kriminaitas lintas usia dan batas, pembangkangan, pengabaian nilai dan ajaran-ajaran agama, tersaji bagaikan menu pavorit sehari-hari. Thomas Lickona- terkait dengan hubungan antara SDM dengan budaya, mengidentifikasi adanya sepuluh fakktor, yang  sekaligus sebagai tanda-tanda jurang kehancuran suatu bangsa, yakni; (1) kekerasan di kalangan remaja, (2) penggunaan kata dan bahasa yang memburuk, (3) pengaruh peer-group yang kuat dalam tindak kekerasan, (4) meningkatnya pelaku merusak diri seperti narkoba, alkohol dan seks bebas, (5) semakin kaburnya nilai moral baik dan buruk, (6) menurunya etos kerja, (6) rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, (8), rendahnya tanggung jawab individu dan warga negara, (9) membudayanya ketidak jujuran, (10) adanya rasa saling curiga dan kebencian antar sesama. Pertanyaan kita saat ini, apakah tanda-tanda itu sudah ada ?
Pada dimensi yang lain, dalam konteks kehidupan yang lebih baik, bermartabat, bahagia, sukses dan sejahtra-persaingan menuju itu sangatlah ketat. Manusia saling menekan dan saling menggilas, kemampuan dan kesanggupan seseorang dipertaruhkan. Bagi mereka yang memiliki keunggulan dan kualitas akan bertahan.Semua ditentukan oleh bisa apa dia, mampu apa dia, kelebihan apa yang dia miliki, dan sederet pertanyaan kritis lainnya. Kemampuan meraih sukses dan kebahagiaan, tidak lagi ditentukan semata-mata oleh faktor kebetulan, tetapi oleh kemampuan dan kecakapan dimiliki. Diperkuat lagi, bahwa era millenial-global, telah meposisikan setiap orang, sebagai yang memiliki kesempatan yang sama untuk mengakses informasi, peluang dan kesuksesan.
Kemampuan kognisi dan intelektualitas saja tidaklah cukup, tetapi memerlukan multiple kompetensi  dan kualifikasi. Perlu sikap (afeksi) dan emosi yang matang, dan pribadi yang berintegritas, perlu juga kesadaran atau tanggung jawab etika dan nilai, baik yang bersumber dari nilai-nilai sosial dan budaya, yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, maupun nilai-nilai ketuhanaan (ilahiyah), yang bersumber dari ajaran-ajaran agama.
Dikusi tentang Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam dinamika di atas, akan selalu relevan dan tematikal untuk dibahas, sehingga PAI secara content dan praktik dapat selalu didekati, dari segi kontek dan kajian-kajian yang lebih utuh dan komprehensif. Begitu juga dengan Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI), bahwa dalam mengemban fungsi pembelajaran, dituntut untuk mampu mengelola secara fungsional, hakikat dan makna universal dari PAI itu sendiri, sehingga pendektan pembelajaran PAI di sekolah/madrasah dapat menyentuh semua asfek kehidupan di muka bumi, secara integratif  dan holistik. Dengan demikian, secara eksitensial PAI akan memiliki konstribusi yang tak terbantahkan, dan tidak dapat dinegasikan, baik secara akademis teoritis maupun secara empiris dalam mewujudkan identitas visi  idealnya, menuju islam rahmatan lil alamin, kebermanfaatanya bagi alam dan segala isinya.
Memasuki abad 21, diakaui bahwa tantangan GPAI semakin kompleks dan penuh aral rintang, terutama terkait dengan kompetensi dan profesionalitas dan persoalan sosial budaya dan keagamaan lainnya. Tantangan itu, mengharuskan GPAI untuk memiliki keunggulan dalam bersaing, mampu membangun diri dalam learning communiy yang hidup, aktiv dan terus menerus membuat pengalaman dan kesempatan belajar, kritis dan senatiasia inovativ, serta memiliki kecakapan dan nilai tambah. Hal itu bisa sebagai kebanggan,reputasi dan pembeda atau penciri yang positif dari guru-guru lainnya.
Discourse tentang PAI-  sejatinya dalah tentang bagaimana melalui PAI yang baik dan bermutu, manusia dapat terbentuk menjadi manusia yang unggul, memiliki harkat dan martabat kemanusiaan yang tinggi, dalam semua aspeknya. Era merosot dan tergerusnya moralitas (moral degradation), dan persaingan hidup manusia yang semakin sengit dan ketat, mengharuskan eksistensi PAI, untuk mereformasi dan merevitalisasi diri secara kontekstual dan fungsional. Hal yang dapat dilakukan, adalah dengan perbaikan performance dan content yang lebih tepat, sesuai dinamika dan tuntutan. PAI tidak boleh lagi, menghadirkan dirinya sebagai rumpun kelas dua, tetapi sebaliknya-PAI adalah utama atau kelas satu, dipentingkan, diprioritaskan, dan digemari dalam “kalasmen” ilmu dan pengetahuan.
Oleh sebab itu, inovasi tentang rumusan dan model pembelajaran PAI di semua level, menjadi hal penting yang perlu dilakukan secara terus menerus, sampai kemudian ditemukannya karaketer PAI yang berintegrasi, dengan kebutuhan-kebutuhan ummat dalam persepektif yang luas dan holistik, termasuk dalam hubungan bermanusia, berbangsa dan benegara, juga dengan lingkunngan dan kosmos kehiduapan yang lain.
Sebagaimana  Syam (2018), menjelaskan bahwa profil manusia yang seharusnya dihasilkan oleh institusi pendidikan, adalah yang mengembangkan pola hubungan antar manusia yang: pluralis,  humanis,  dialogis dan toleran serta mengembangkan pemanfaatan dan pengelolaan alam dengan rasa cinta kasih. Pluralis dalam arti memiliki relasi tanpa memandang suku, bangsa, agama, ras ataupun titik lainnya yang membedakan antara satu orang dengan orang lain. Humanis dalam arti menjunjung tinggi hak asasi manusia dan menghargai manusia sebagai manusia. Dialogis dalam arti semua persolan yang muncul sebagai akibat interaksi sosial didiskusikan secara baik dan akomodatif terhadap beragam pemikiran. Dan toleran dalam arti memberi kesempatan kepada yang lain untuk melakukan sebagaimana yang diyakininya, dengan penuh rasa damai. Tidak saja pada ranah itu, pendidikan juga harus dapat mengangkat derajat manusia untuk memuliki ilmu pengetahuan dan keterampilan yang baik, sehingga dengan itu- martabat kemanusiaanya bisa diwujudkan dalam hidup yang bahagia, sukses, sejahtra lahir bathin dan berfaedah bagi manusia lainnya.
 
Pendidikan Holistik; Orientasi dan Dimensi Karakter Pendidikan Agama Islam
Secara jujur, PAI diberbagai isu startegis masih mengalamai posisi yang belum sesuai dengan harapan. PAI sebagai bidang studi, yang diajarkan di madarsah atau disekolah, sering disimbolisasi sebagai bidang studi yang tidak bergensi, kurang diminati, tidak memiliki prosfek, tidak wah, pelajaran kelas dua dan isu-isu besar lainnya, termasuk tentang isu multikulturaslisme dan peran agama, juga tentang fenomena radikasilasi dan fundamentalisasi- yang kemudian menyeret peran, eksistensi dan orientasi PAI. Memahami stigmatisasi seperti itu, perlu reorientasi dan rerormulasi PAI dalam berbagai aspek, termasuk pada pemahaman PAI yang holistik integratif.
Para pemilik  gagasan tentang pendidikan holistik menyatakan bahwa, pendidikan holistik adalah pendidikan yang membangun manusa secara keseluruhan dan utuh, dengan mengembangkan semua potensi, yang mencakup potensi sosial-emosional, potensi intektual, potensi moral atau karakter, krativitas, inovasi dan spritualitas. Dasar pendidikan holistik, oleh para penganutnya diperkenalkan konsef 3 R’s yakni akronim dari; relationship, resphonsibility dan reverence.  Pendidikan holistik bebasis pada pembentukan karakter, secara ideal dapat dikemas dalam rumusan beberapa arah dan tujuan yakni : (1) mempersiapkan masa depan peserta didik, yang memiliki kematangan dan keseimbangan yang menumbuhkan kesadaran ilahiyah yang tinggi (kesadaran spiritual), (2) meningkatkan kualitas logika dan kalbu (kesadaran emosional), sehingga dengan demikian dalam konteks pendidikan Islam, peserta didik mampu menjadikan dirinya sebagai muslim yang kaffah, yaitu aktualisiasi pemaknaan Islam secara total dalam meraih aneka ilmu dan makrifah (hablum minallah), yang diaktalualisasikan melalui amaliyah dan tata cara kehidupan pribadi dan masyarakat (hablum minannas), dan (3) meningkatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, modernisasi dan industrialisasi, sehingga itu manusia dapat menggali rahasia di balik alam serta dapat menemukan dan memberdayakan alam ini secara efektif (Mardia: 2011).
Kesadaran spiritual; bagi setiap orang adalah hal yang fundamental. Hal ini juga dirumuskan secara eksplisit, dalam tujuan pendidikan nasional. Bahwa pendidikan harus memiliki fungsi dan tujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketawaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Artinya, pendidikan agama tentang bagaimana membekali ilmu dan cara bergama, yang sesuai dengan tuntutan, adalah hal penting diajarkan dan didikkan. Menjadi lebih penting lagi, karena saat ini pola khidupan manusia, cendrung terus semakin liar dan bebas, persaingan kian ketat, bahkan nyaris atas nama tujuan dan kepentingan matrialis pragmatis, dilakuakn dengan penghalalan dan pembolehan segala macam cara dan argumentasi. Nilai-nilai agama dalam sikap keagamaan seperti itu, menjadi hal yang diperlukan, sehingga kontrol dan posisi sikap mental dan konsep baik buruk manusia, dosa dan pahala,   dilakuakan dengan menjadikan nilai-nilai religius spiritual sebagai landasan dan pijakan berpikir dan berprilaku.
Kesadaran emosional; aktualisasi dan internalisasi serta pemaknaan islam yang kaffah bagi seorang muslim adalah proses menjadikan cara berpikirnya (logika), dan perbuatannya, atau amaliyahnya, sebagai kontek membangun hubungan dan realasi yang baik dengan Allah dan dengan sesama makhluk, manusia dan lingkungan. Penyelarasan posisi dan fungsi antara logika dan hati (pikir dan zikir), adalah menjadi bagian, dari cara menuju pada tahap keseimbangan emosi. PAI yang rahmatan lil alamin memilik tiga dimensi, selain dimensi utamanya adalah hubungan baik kepada Allah, juga hubungan baik dengan manusia dan dengan lingkungan/ alam sekitar. Oleh sebab itu, kesadaran emosi, akan paralel dengan sikap-sikap hasanah lainnya, seperti empati, simpati, toleransi, menghormati, menghargai dan demokratis serta menjaga kelestarian.
Ilmu pengetahuan dan Tekhnologi; perkembangan dan tuntutan persaingan pada semua domain dan sektor kehidupan, mensyaratkan penguasaan ilmu pengetahuan dan tekhnologi. Globalisasi dan industrialisasi, telah menjadi ciri utama masyakat maju dewasa ini. Oleh sebab itu, respon terhadap perkembangan ilmu pengathuan dan tekhnologi menjadi keniscayaan. PAI sebagai objek ilmu dan amal, tidak boleh latah dan apriori terhadap ilmu pengathuan dan tekhnologi, yang datang dan bersumber dari manapun. Ekspansi ilmu pengetahuan dan tekhnologi, tak terbendung lajunya, menerabas pada semua sisi dan metode ilmu pengathuan. Itulah makna hubungannya, sehingga PAI harus selalu respon dan peka, sekaligus mampu mengintegrasikannya dalam pemanfaatan dan fungsinya secara proporsional.
Relevan dengan kajian di atas, penting dijadikan contoh tentang bagaimana Nabi Muhammad saw, menjalankan tugas kenabiannya, yang sekaligus mengemban misi profetis sebagai pendakwah dan pendidik. Membuat ummat manusia menjadi baik dan memiliki kualitas yang utuh, tidak saja secara jasmaniah, tetapi juga secara bathiniah. Sebagai pendidik dan sebagai rasul, misi kependidikan pertama nabi Muhammad saw, adalah menanamkan akidah yang benar; yakni akidah tauhid-mengesakan Tuhan, memahami seluruh fenomena alam dan kemanusiaan, sebagai satu kesatuan, suatu yang holistik. Dalam krangka tauhid pada pengertian ini, maknanya adalah untuk keselamatan dan kebaikan kemanusiaan itu sendiri. Dengan demikian sumber daya manusia dalam kontek bertauhid adalah manusia yang memiliki kualitas yang seimbang, beriman, berilmu (beriptek) dan beramal; cakap, baik secara lahiriyah bathiniah, berkualitas; secara emosional dan rasional atau memiliki EQ dan IQ yang baik. Krisis SDM akan terjadi, manakala keseimbangan sperti itu tidak diperdulikan atau diabaikan, sebagaimana cendrung terjadi  dalam sistem pendidikan modern dewasa ini (Azra.2019:56). Itulah penegasan dan manifestasi hakikat bertauhid, dalam persepektif nilai dan perbuatan. Bahwa bertauhid berarti ikrar dan sekaligus juga opsi tunggal, agar manusia mengalami proses yang baik dalam kehidupannya.

Dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI), bahwa secara realitas-PAI adalah sistem yang kompleks, yang teridiri dari banyak unsur dan variabel, dan setaip variabel saling mempengaruhi satu sama lain. Tuntutan agar PAI memiliki korelasi yang signifikan dengan prilaku dan sikap mental, belum terjawab secara tuntas- dalam tataran kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. PAI pada kenyataannya, masih didominasi oleh cara dan paradigma yang membatasi diri, dari orientasi yang seharusnya di jawab oleh PAI. Misalkan, PAI tidak selalu tentang norma dan doktrin keagamaan, tetapi PAI juga tentang inovasi, realitas kehidupan dan sisi-sisi kontekstual lainnya. Selama ini, PAI masih didentikan dengan upaya-upaya doktrinasi dan nilai nilai normatif un-sich, yang kemudian membuatnya menjadi sulit membumi dan relevan dengan realitas dan kebutuhan ummat.
Tak dapat dielakkan pula, PAI sebagai objek kajian, akan berhadap-hadapan dengan globalisasi dengan segala efek yang ditimbulkan, sejalan atau sebaliknya-berlawanan. Pada pespektif ini, perlu sikap bijak dalam memposisikannya-sehingga misi PAI tetap dengan karakter orientasi kesadarannya, sebagaiamana di atas. Namun juga mampu berakselerasi dengan dinamika dan tuntutan globalisasi. Sebagaimana (Mickletwait, 2000), bahwa kompeleksitas di tengah masyarakat adalah akibat dari dorongan three engines globalization, tiga mesin globalisasi yakni tekhnologi, kapital dan manajemen. Ketiga mesin pendorong gelobalisasi itu, disamping dapat memberi keuntungan, tetapi juga dapat mengakibatkan persinggungan yang tidak positif secara sosial, budaya dan nilai. Pada soal inilah, bagaimana PAI hadir dalam menjembatani, dengan penguatan kesadaran baik secara spiritual maupun moral. Atau tantangan yang lebih baik lagi, adalah bagaimana PAI bisa hadir sebagai ilmu yang di satu sisi berfungsi untuk mengurus diri, cara bersikap, tabiat, berperilaku dan cara berpikir seseorang dengan tuntunan ajaran Allah dan Al-Qur’an, tetapi juga PAI dapat mengambil bagian dari ilmu yang berfungsi untuk mengurus sistem. Atau paling tidak, yang menyatukan urusan diri dan urusan sistem itu adalah pada kearifan, sikap amanah, tanggung jawab dan tentu juga yang paling dasar adalah iman dan akidah.

Guru Agama  ; Competetive Advantage & Islam Rahmatan Lil Alamin.
Membaca persoalan dan permasalah guru PAI, baik yang diajarkan pada madrasah ataupun pada sekolah-sesungguhnya cukup rumit, tidak sederhana dan komplek. Persoalan guru, adalah persoalan hubungan dan pengaruh antara berbagi elemen dan variabel. Dalam kontek GPAI, beberapa masalah yang masih belum tuntas bahasannya, antara lain adalah tentang; kompetensi GPAI, profesioalitas, guru PAI yang low profile, tidak gaul, tidak akrab tekhnologi, minimnya kegiatan dan aktivitas ilmiah, disiplin dan sikap mental rendah, tidak peka dan resphon terhadap dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhologi dan beberapa soal lainnya.
Sebuah teori yang secara waktu- cukup lama, Adler (1961) membuat logika dengan penjelasan bahwa tidak ada kualitas proses pembelajaran tanpa ada kualitas guru, dan tidak ada kualitas hasil pendidikan, tanpa ada kualitas proses pembelajaran. Intinya, kualitas hasil pendidikan sangat dipengaruhi oleh kualitas dan prilaku guru. Karena itu, tidak ada anak yang tidak dapat dididik, yang ada adalah guru yang tidak berhasil mendidik.
Sebagian kelompok boleh tidak setuju  dengan teori tersebut, karena dianggap tidak benar dan tidak pula merupakan simpulan dari diskusi tentang kualitas pendidikan. Tetapi, bisa juga sebagian publik setuju, kerena dilihat dari persepektif lain, sebagai realitas, fakta, pengalaman dan gejala yang tampak. Lebih dari hanya sekedar prokontra itu, yang penting adalah tentang pesannya, bahwa guru memiliki posisi dan peran yang strategis, dalam menentukan kualitas pendidikan.
Baba (2010) menjelaskan bahwa, beberapa hal yang bersifat fundamental (asasi), yang perlu dipahami guru dalam memahami dinamika pendidikan dan dalam memberikan respon terhadap faktor politik, ekonomi, sosial, politik, tekhnologi, agama dan lainya di sekitarnya. Secara umum, untuk dapat merespon setiap dinamika yang ada, tergantung pada tekad pendidik (educators’s will) itu sendiri. Dalam hal ini, sangat jelas bahwa peranan guru turut menentukan faktor pembangunan, di antaranya pembangunan sumber daya manusia, yang kemudian menjadi syarat dalam memajukan pendidikan. Untuk hal itu maka; Pertama, pendidik perlu memahami bahwa Allah menciptakan manusia dengan fakktor utama yakni, akal, jasmani dan rohani. Pemaknaan terhadap tiga faktor itu penting, terutatama dalam pendidikan holistic dan integratif agar lahir pribadi yang seimbang dan harmonis. Kedua, pembelajaran memerlukan metodelogi yang tepat. Ketiga, perlunya kesadaran bahwa pembelajaran dan pendidikan yang mengajarkan tentang contoh dan tauldan dalam membentuk akhlak dan pribadi. Keempat, pendidik harus mampu menghadirkan suasa kondusif dalam proses pembelajaran 
Dalam konteks keberadaan guru dan kualitas pendidikan di Indonensia, beberapa studi dan kajian yang telah dilakukan para peneliiti selama ini, didapatkan catatan, bahwa profesionalisme guru di Indonesia masih dianggap sakit keras, baik pada aspek input, distribusi, mutu akademik, aktivitas ilmiah maupun kelayakan dalam penguasaan di bidangnya (Muhaimin.2011:149). Pertanyaannya, (1) apa penyebab atau akar masaahanya, (2) Apakah GPAI berkonstribusi terhadap kondisi sakit itu? Tentu, perlu kajian serius dalam menjawab soal dan gejala ini, karena sejatinya- yang penting itu bukan hanya pada tahap menemukan dan mengidentifikasi sumber masalahnya saja, tetapi yang utama adalah kesungguhan dan komitment memperbaiki keadaannya. Masalah rendahnya profesionalitas guru, dapat dikritisi bersama-sama, baik secara teoritis maupun praktis.  Apakah masalah itu terjadi karena soal kesejahtraan, soal Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) guru, yanga ada pada perguruan tinggi, atau proses pengembangan kapasitas dan kompetensi guru yang tidak berjalan dan berproses secara baik, atau ada soal lain. Intinya, penguatan dan pengembangan kapasitas guru, menjadi penting.

Untuk mewujudkan pendidikan yang bermutu, penguatan kapasitas guru PAI pada semua jenjang dan satuan pendidikan, menjadi sebuah keharusan. GPAI sebagai ujung tombak (fron-line) pendidikan Agama Islam di sekolah, harus mampu mengembangkan kapasitas dan kompetensi secara terus menerus (sustainable). Dengan kualitas dan kapasitas guru pada rumpun keilmuan lainnya, GPAI secara personal dan profesional, harus terus didorong dan di support, untuk kemudian menjadi memliki komitment, visi dan tujuan pendidikan yang bermutu dan berkualitas. Dengan demikian, competitive advantage GPAI tidak saja pada batasan konsep,  namun dalam fungsi dan tugas-tugas profesionalnya, semakin nyata berkontribusi dan memberi faedah bagi kemajuan pendidikan dan pradaban suatu masyarakat bangsa.

Pergeseran paradigma GPAI kepada formulasi dan bentuk yang lebih baik, harus menjadi agenda penting untuk diresphon, antara lain tentang stigmatisasi yang cendrung minor di tengah masyarakat. Bahwa selama ini, melekat pada GPAI di beberapa lembaga pendidikan, sebagai personal guru yang tidak berkelas dan berkualitas. Ramayulis (2012), mengemukakan bahwa profesionalitas guru juga indikatornya ditentukan oleh kewibawaan yang dimiliki. Kewibawaan diartikan sebagai “kualitas daya pribadi” yang dimiliki oleh seseorang, yang dapat membuat pihak lain menjadi tertarik, percaya, hormat dan mengikutinya. Untuk membuktikan dan sekaligus menjawab stigma minor itu, maka GPAI secara personal atau secara kelembagaan, harus ; (1) Good performance, (2) menjadi guru kelas satu, (3) memiliki pengatahuan dan wawasan luas, utamanya tentang makro pedagogik dan pengetahuan lainnya, (4) berkeperibadian dan berintegritas mulia, (5) visionner dan memiliki pandangan jauh ke depan tentang perubahan, (6) akrab dengan perkembangan tekhnologi, (7) berpenampilan menarik, (8) inklusif terhadap lingkungan dan (9) mampu membuat relasi dan jaringan (networking) positif dengan semua pihak.

Dalam terminologi Islam, pemaknaan terhadap eksistensi guru sangat universal dan menyentuh banyak sisi nilai dan peran. Guru bukan hanya sekedar pengajar (mudarris) yang memiliki tugas transfer of knowladge saja kepada peserta didik, tetapai guru juga adalah seorang muaddib (pembimbing), seorang pembaharu/ inovator (mujadid), seorang yang mendidikan nilai-nilai ketuhanan kepada orang lain (murabby). Guru adalah sosok yang padanya terdapat sifat “ulul albab”, yang memiliki kemampuan menyeimbangkan diri antara pikir dan dzikir secara seimbang dan poporsional. Hal ini relevan dengan apa yang ditunjukan Al-Quran “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan ummat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari  mungkar; mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Dalam  menjalankan tugas dan tanggung jawab kemuliaannya sebagai guru, posisi niat dan motivasi pelaksanaan tugas sebagai guru, tentu bukan hanya terletak pada tujuan matari, atau fisical happiness yang bersipat sementara saja, melainkan kepada moral dan spiritual yang menghasilkan moral happiness dan spiritual happiness yang bersipat jangka panjang dan abadi (Nata.2012). Selain hal-hal fundamental tersebut, kemuliaan tugas yang dijalankan oleh guru, juga harus menyentuh dimensi pengembangan potensi, kereativitas dan kebahagiaan, melalui persiapan masa depan peserta didik yang unggul dan berkualitas. Dalam menghadapi tantangan tugas dan misi peradaban, seorang guru harus memiliki keunggulan besaiang (competitive advantage). Sebuah istilah yang dipernalkan Porter (1985) dalam ilmu idndustri dan perusahaan, sebagi inti dari kinerja sebuah perusahaan dengan sumber daya yang berkomitment untuk berkembang dan mengejar kemajuan. GPAI yang memiliki keunggulan bersaing, adalah mereka yang memiliki komitment tugas yang baik, punya kompetensi, kinerja yang tinggi, dan seperangkat kapasitas pendukung lainnya, secara integratif holistik. Hal yang harus diingat juga, bahwa kebaradaan agama dalam menjalankan tugas profesi apapun, agama harus dijadikan sebagai landasan bekerja dan berprofesi.Pekerja (profesi) yang beragama, akan menjadikan agamanya sebagai bimbingan dan pedoman dalam bekerja, sehingga terbebaskan dari segala perbuatan yang menghalalkan segala cara atau “al-ghayah tabarriru al-washilah”. Agama bagi orang yang beragama dan meyakini kebenaran agama adalah “guiding principle” atau prinsip yang membimbing setiap prilaku manusia, dalam aktivitas dan pekerjaannya, termasuk dalam pekerjaan atau profesi sebagai pendidik (guru).
Untuk dapat memiliki keunggulan bersaing dan profesionalitas, setiap guru perlu di up-grade, dan dikembangkan kapasitasnya.  Kegiatan pengembangan kompetensi guru yang dilakukan oleh sekolah atau pemerintah selama ini, pada kenyataannya- masih dirasakan belum maksimal dan ideal, sesuai dengan yang diharapkan. Kegiatan pengembangan guru masih dilakukan dalam pola yang konvensional, insidentil, temporal, dan intensitas kegiatan pengembangan kompetensi, tergolong masih minimum. Materi dan sasaran pembinaan masih bersifat umum (global), kurang fokus pada masalah dan kebutuhan guru, serta belum dilakukan kegiatan pengembangan kompetensi guru yang berdasarkan pada analisis kebutuhan (need analysis), dan analisis penilaian (assessment analysis) yang komfrehensif dan objektif (Hadi.2018).

Memaknai dan mengkaitkan eksistensi GPAI dalam konsep dan manipestasi Islam rahmatan lil alamin, pada hakikatnya adalah menjadikan GPAI sebagai identitas dan eksistensi profesi, yang tunduk dan patuh pada nilai-nilai kebaikan universal. GPAI yang menyebarkan dan mendakwahkannya secara totalitas, serta sebagai pilar dan agen perubahan menuju kehidupan yang lebih mulia dan lebih baik, dalam semua dimensi dan lintas kehidupan di jagat raya ini. Dalam rangka tugas dan tanggung jawabnya mengemban misi pendidikan (dakwah), yang pada tujuannya dilakukan untuk mentrasformasi dan mendistibusi semua bentuk nilai-nilai kebaikan, maka komitment tugas dan keteguhan mental dalam menghadapi segala problem dan tantangan, menjadi keniscayaan moral dan etik. Mewujudkan makna-makna penting tersebut, GPAI dituntut untuk mampu merumuskan konsep diri secara transformatif dan inklusif, sehingga fungsi-fungsi edukasi, dakwah dan peningkatan kualitas SDM ummat, dapat menyentuh soal-soal dan kepentingan kehidupan manusia, dunia akhirat, lahir dan bathin. 

Islam rahmatan lil alamin, adalah sebuah konsep yang sangat abstrak, berangkat dari teks, “wa ma arsalnaka  illa rahmatan lil ‘alamin”, yang artinya kurang lebih “dan tidak Aku utus engkau (Muhammad) kecuali untuk kerahmatan bagi seluruh alam”. Islam sebagaimana teksnya memang untuk kerahmatan bagi seluruh alam, bukan hanya keselamatan bagi manusia tetapi juga untuk alam lainnya. Yang diselamatkan adalah hablum minallah, hablum minan nas dan juga hablum minal alam. Oleh sebab itu, perlu membawa kajian teks kepada konteks, terlebih lagi- universalitas nilai dan ajaran Islam, telah dengan sangat sempurna memberikan pedoman, bagi proses mewujudkan kehidupan manusia dan alam, yang selalu dalam rahmat Allah.

Islam rahmatan lil alamin adalah sebuah konsep penting yang seharusnya mampu diaplikasikan oleh penganut agama Islam itu sendiri. Islam rahmatan lil alamin artinya Islam merupakan agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi semua seluruh alam semesta, termasuk didalamnya hewan, tumbuhan, apalagi terhadap sesama manusia. GPAI secara moral-institusional, adalah elemen penting yang diharapkan dapat menyamapaikan pesan tersebut, bahwa dalam misi Pendidikan Agama Islam, ada ikhtiar mulia dan ada nilai, ada juga tentang karakter positif, agar bagaimana setiap ummat manusia dapat menjadi dan memberi faedah bagi semua alam, atas dasar Islam sebagai ajaran dan nilai. Metode untuk itu, secara simpel dapat dilakukan dengan cara mengajak dan mengajarkan tentang kebaikan, mengajak pada cara menuju kebahagiaan, saling memberi dukungan tentang kesuksesan, berbagi ilmu dan pengetahuan yang lebih baik, memiliki keterampilan atau skill yang mantap, hubungan yang harmoni dan saling mengargai. Di sisi lain, tentu- tidak juga melakukan pembiaran terhadap kemaksiyatan, penyimpangan dari nilai-nilai dan norma yang berlaku, baik secara agama, sosial maupun budaya.

Relevan dengan pandangan dan kajian di atas, terhadap Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai objek dan content, perlu secara serius dan kritis- dilakukan reorientasi, reformulasi, revitalisasi yang mengarah pada substansi materi yang kontekstual dan relevan dengan dinamika dan tuntutan perubahan. Selain karena dasar pokoknya adalah, tentang tujuan menyiapkan peserta didik ntuk memiliki ilmu agama dan pengamalan keagamaan (ibadah) yang baik, PAI juga memiliki tanggung jawab, dalam melahirkan spirit dan sikap mental, tentang kebaikan pada semua sistem kehidupan. PAI harus dihadirkan sebagai ilmu dan metode dalam membangun kesdaran tiga dimensi secara holistik, yakni PAI yang membangun dan memperkokoh iman dan akidah (kesdaran spirtual) manusia sebagai hamba Allah, PAI yang membawa pada pradaban kemanusiaan yang egaliter dan demokratis (kesadaran emosional), dan PAI yang menghadirkan semangat menjaga dan merawat kelestarian alam, dengan inovasi dan kreativitas  (kesadaran iptek) yang unggul (kesadaran ilmu dan intelektual).

PAI dalam fungsi dan oreientasi, harus dikembangkan dalam asfek yang lebih universal, yakni tidak saja hanya dalam rangka membuat orang rajin beribadah, berakhlak baik, sopan santun, berkeperibadian ramah. Tetapi PAI juga harus menjadi bagian dari ilmu yang dapat mengambil peran dan bagian, dalam penataan serta perbaikan sistem hidup manusia. Dengan keperibadian yang luhur, dan sistem yang baik- maka diharapan ummat dapat berekspresai secara optimal, dalam berbagai segment pembangunan, dengan tetap memperhatikan nilai-nilai rabbany atau ketuhanan sebagai asas utama. PAI dalam kajian keilmuan, dituntut pula untuk selau merivitalisasi, reformulasi dan reorientasi sehingga PAI senantiasa relevan dan berkontribusi bagi pembangunan ummat.
Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan tekhnologi, milennial era dan globalisasi- maka GPAI haru mampu merumuskan konsep diri secara tepat. GPAI harus memiliki komitment yang baik dalam mengembangan kapasitas diri, memiliki kinerja dan performance yang baik, berkelas tinggi (hight class), berwawasan luas, akrab dengan perkembangan informasi dan tekhnologi, berpenampilan menarik, disukai dan digemari peserta didik, seorang yang ulul-albab, iknklusif dan dan memiliki pandangan jauh ke depan (visioner) dan membuat jaringan (networking) yang menguntungkan. Dengan keberadaan guru Agama pada madrasah atau sekolah yang profesional, kompetensi yang andal, skill yang baik, peka dan respon terhadap perkembangan lingkungan, maka guru agama akan dapat menghadirkan competitive advantage spirit, bagi pengembangan sumber daya manusia ummat, dengan nilai-nilai universal Islam sebagai basisnya, maka kemudian akan kian nyata- bahwa keberadaan guru agama akan memberikan andil dan konstribusi, tidak saja dalam menterjemahkan Islam rahmatan lil alamin, tetapi dalam mengimplementasikan pada semua dimensi hubungan, relasi dan koneksi.

Komentar

Previous Post Next Post