Aidit dan Yani Korban Revolusi Abu-abu juga awal Perseteruan Angkatan Darat dan PKI



Perseteruan politik antara Ketua Central Comite Partai Komunis Indonesia (CC PKI) Dipa Nusantara Aidit dan Panglima Angkatan Darat Letjen Ahmad Yani berakhir pada Sumur Tua, Tahta tentu sebagai dalang permusuhan antar kedua orang tersebut.

Keduanya memang tak pernah cocok. Ditambah lagi perseteruan Angkatan Darat dan PKI yang kian tak terbantahkan, Aidit dan Yani Bak anjing dan kucing, saling serang antara PKI dan Angkatan darat menjadikan keduanya dikenal sebagai musuh bebuyutan.

22 Juni 1962 sebagai catatan sejarah ketika Yani dilantik menjadi Kepala Staf Angkatan Darat, Aidit menulis selembar puisi khusus untuk Yani. Puisi yang diberi judul "Raja Naik Mahkota". Menjadi Bait-bait kata yang dilontarkan untuk menyindir Yani.

Udara hari ini cerah benar,

Pemuda nyanyi nasakom bersatu,

Gelak ketawa gadis Remaja,

Mendengar si lalim naik tahta,

Tapi konon mahkotanya kecil,

Ayo maju terus kawan,

Halau dia ke jaring dan jerat,

Hadapkan dia kemahkamah rakyat.

Gaya hidup dari koleksi jam tangan mewah hingga Hobi maen Golf Yani yang Borjuis tentu saja bertolak belakang dengan Aidit dan PKI yang mengklaim diri memperjuangkan kaum proletar (Buruh dan petani). Yani yang Lulusan pendidikan militer Amerika juga dituding Aidit sebagai agen neokolonial dan imperialisme (Nekolim).

Saat Operasi Trikora di Irian Barat selesai pada tahun 1963, Kondisi prekonomian Indonesia yang sedang carut-marut pada waktu itu dimanfaat PKI untuk kembali melanjutkan serangannya dengan menuding Angkatan Darat memboroskan anggaran dan menyebabkan negara bangkrut.

Atas serangan tersebut Yanipun marah dan membalas serangan Aidit yang dikutif dari buku sejarah TNI jilid III yang diterbitkan Pusjarah.

"Biar ada 10 Aidit pun tak akan bisa memperbaiki ekonomi kita," ujar yani

Perseteruan kembali berlanjut ketika Aidit mengusulkan pembentukan angkatan kelima, dimana buruh dan tani dipersenjatai. dengan alasan buruh dan tani akan dikerahkan untuk Dwikora menghadapi Malaysia dan serangan Neo Kolonial dan Imprealisme. Namun Penolakan dilontarkan angkatan Darat yang saat itu tentu pada komando Ahmad Yani, Angkatan Darat tak mau PKI punya kekuatan bersenjata yang sewaktu-waktu bisa digerakkan.

"Kalau Nekolim menyerang, semua rakyat Indonesia akan dipersenjatai. Bukan hanya buruh dan tani," balas Yani.

Sejak Saat itu beredar Dokumen Gilchrist, Duta Besar inggris untuk Indonesia. Isi dokumen tersebut menyebutkan, ada kerjasama antara militer AS dengan sejumlah jenderal Angkatan Darat yang tak loyal dengan Soekarno, termasuk juga ada isu Dewan jenderal yang siap mengkudeta Soekarno dan mendirikan pemerintahan baru. Nama Yani muncul di dalamnya. Tentu saja Yani menolak isi dokumen Gilchrist tersebut.

Informasi Penyerangan PKI telah tersebar, Yani pun tahu itu, Namun Yani meremehkan info tersebut dan Intelijen Angkatan Darat ternyata gagal mendeteksi gerakan 30S. Yani yang meremehkan informasi tersebut membuatnya tidak waspada dan membayar mahal dengan Pertumpahan darah yang kita kenal dalam catatan sejarah sebagai Sejarah kelam G30S. Ia tewas diberondong pasukan penculik 1 Oktober 1965 dini hari di rumahnya. Sejumlah jenderal pimpinan Angkatan Darat juga dihabisi. Mayat mereka dimasukkan ke dalam sumur tua di lubang buaya.

G30S pun Gagal, kemenanganpun tidak pada tangan Aidit, Ia lari ke Jawa Tengah. Setelah Beberapa hari dari pelarian dan persembunyiannya Aiditpun tertangkap. Beberapa versi menyebutkan, Jenazah Aidit juga dimasukkan kedalam sumur tua, setelah ia diberondong dengan peluru AK-47 oleh Pasukan Kostrad.

Hampir serupa walau tak sama. perseteruan antar Keduanya berakhir pada Sumur Tua, keduanya bukanlah pemenang dari perseteruan, hanya korban revolusi yang masih abu-abu.

Realitanya pada hari ini angkatan darat dan PKI adalah seteru Abadi.

0 Response to "Aidit dan Yani Korban Revolusi Abu-abu juga awal Perseteruan Angkatan Darat dan PKI"

Post a Comment